<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tärbîyätunä Onlîné</title>
	<atom:link href="http://tarbiyatuna.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com</link>
	<description>Madah Materi Dakwah Tarbiyah Islam Ikhwan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 05:57:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tarbiyatuna.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tärbîyätunä Onlîné</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tarbiyatuna.wordpress.com/osd.xml" title="Tärbîyätunä Onlîné" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tarbiyatuna.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Salafi berebut Tafsir</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2009/04/23/ketika-salafi-berebut-tafsir/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2009/04/23/ketika-salafi-berebut-tafsir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 02:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[klasik]]></category>
		<category><![CDATA[moderat]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2009/04/23/ketika-salafi-berebut-tafsir/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Haedar Nashir Ketua PP Muhammadiyah, doktor sosiologi, menulis disertasi tentang salafi Salafi merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini. Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=79&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://swaramuslim.net/more.php?id=5648_0_1_0_m">Oleh : <strong>Haedar Nashir</strong><br />
<em>Ketua PP Muhammadiyah, doktor sosiologi, menulis disertasi tentang salafi</em></a></p>
<p>Salafi merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini.</p>
<p>Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan diri sebagai pengikut jejak generasi panutan pasca-Nabi yang saleh (salaf al-shalih) itu, selain militan, tak jarang menampilkan corak keagamaan yang keras. Lebih-lebih ketika kelompok Islam lainnya yang serumpun juga bermunculan ke permukaan dengan tampilan keagamaan yang tak kalah keras dan militan. Ibarat pepatah, air mengalir ke tepian, kerbau pun pulang kandang. Keras pandangan, siapa pun pemiliknya, akan melahirkan peluang gampang silang sengketa yang mengalir deras ke segala arah.<br />
<span id="more-79"></span><br />
Salafi (salafy) adalah sebutan bagi orang yang mengikuti atau mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf. Salaf adalah masa terdahulu, suatu era kehidupan tiga generasi sesudah Nabi, yaitu para sahabat, tabi&#8217;in (pengikut sahabat), dan tabi&#8217;in-tabi&#8217;in (pengikut para tabi&#8217;in) yang pola kehidupan keagamaannya dipandang ideal.</p>
<p>Salafi juga sering disamakan dengan &#8220;jamaah berpaham salaf&#8221;, mirip dengan salafiyah (salafiyyah) sebagai aliran atau mazhab. Orang yang mengikuti paham salafi disebut salafiyyun atau salafiyyin, yakni mereka yang menjadi pengikut ajaran salaf, baik karena klaim dirinya maupun predikat orang terhadapnya.</p>
<p>Pada awalnya, salafi atau salafiyah terbatas pada paham semata, yang muncul dari para pengikut mazhab Imam Hanbali pada abad ke-7 Hijriah. Paham ini makin populer pada abad ke-12 Hijriah di tangan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Secara normatif, salafi merupakan idealisasi paling harfiah untuk menjalankan praktek agama sebagaimana generasi salaf as-shalih. Praktek hidup generasi terdahulu itu, menurut sementara pandangan, termasuk yang dirujuk hadis sebagai khairu-kum qarniy, suatu generasi terbaik pasca-Nabi.</p>
<p>Generasi yang juga dinisbahkan sebagai ash-shabiqun al-awwalun (Q.S. At-Taubah: 100), para perintis Islam generasi awal dari Muhajirin dan Anshar yang menjalani hidup keemasan masa Nabi dan sesudahnya. Hingga di sini, kategorisasi salafi menjadi absurd, sebab kualitas ideal generasi Nabi itu menjadi hak milik setiap orang Islam untuk meraihnya, bukan milik kelompok tertentu, lebih-lebih secara given.</p>
<p>Dalam perkembangan berikutnya, sejarah mencatat bahwa salafiyah tumbuh dan berkembang pula menjadi aliran (mazhab) atau paham golongan, sebagaimana Khawarrij, Mu&#8217;tazilah, Maturidiyah, dan kelompok-kelompok Islam klasik lainnya. Salafiyah bahkan sering dilekatkan dengan ahl-sunnah wa al-jama&#8217;ah, di luar kelompok Syiah.</p>
<p>Salafi atau salafiyah bukan hanya tumbuh beragam cabang, bahkan menampilkan perbedaan paham yang sangat keras satu sama lain. Perbedaan paham yang serba ekstrem sering mengantarkan kaum salafi pada sikap gampang saling menyesatkan. Karena soal paham dan pertentangan yang keras, tidak jarang mereka melakukan mubahalah, sumpah keagamaan untuk menentukan siapa benar dan siapa salah di antara mereka.</p>
<p>Rentang paham keagamaan kaum salafi memang tajam dan keras. Kelompok salafi aqidah atau &#8220;dakwah&#8221; membatasi diri hanya pada praktek keagamaan yang mereka klaim bersih dari syirik, bid&#8217;ah, dan kurafat. Kelompok ini pada tingkat yang paling rigid membid&#8217;ahkan apa saja yang di luar mereka pahami, termasuk membid&#8217;ahkan organisasi dan lebih-lebih politik. Kelompok salafi &#8220;haraki&#8221;, sebagaimana namanya, melibatkan diri dalam pergerakan keagamaan, tak kecuali dalam politik.</p>
<p>Yusuf Qaradhawi bahkan memperkenal kelompok salafi &#8220;politik&#8221;, yang menceburkan diri dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Penulis, melalui disertasi tentang Gerakan Islam Syariat, mengamati kecenderungan kelompok salafi lain yang tipikal, yakni salafi &#8220;ideologis&#8221;. Mereka adalah kelompok salafiyah yang mengusung isu-isu keagamaan serba harfiah dan doktrinal, sekaligus memiliki agenda politik untuk mewujudkan cita-cita keagamaannya dalam struktur negara dan memformat ulang negara Islam.</p>
<p>Kelompok Islam modernis seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam juga dikategorikan sebagai salafiyah, yang mempraktekkan Islam murni, terutama dalam akidah dan ibadah. Azyumardi Azra memasukkan Muhammadiyah ke dalam salafiyyah washathiyyah, salafi yang moderat. Dalam istilah penulis, Muhammadiyah termasuk salafiyah tajdidiyah atau salafiyah reformis karena melakukan pemurnian sekaligus pembaruan pemikiran Islam.</p>
<p>Bahkan Nahdlatul Ulama dikaitkan pula dengan salafiyah, ketika merujuk pada paham keagamaannya sebagai ahl al-sunnah wa al-jama&#8217;ah. Kedua gerakan Islam tersebut malah dikenal sebagai moderat. Dari titik ini tergambar betapa majemuk sekaligus absurd paham dan kelompok salafi yang muncul ke permukaan, sekaligus sebagai bayangan langsung pluralitas Islam dalam konstruksi dan latar sosio-historis para pemeluknya yang pusparagam.</p>
<p>Tampilan perilaku keagamaan kaum salafi pun laksana diaspora. Karena ada kategori salafi yang moderat, maka ada pula salafi &#8220;radikal&#8221;. Orang boleh tak setuju dengan kategori yang stigmatik seperti itu, tapi salafi yang disebut terakhir itu, selain serba harfiah dalam memahami Islam, juga menampilkan praktek keagamaan yang serba militan dan keras. Taliban di Afghanistan, yang pernah tampil sebagai rezim Islam, merupakan prototipe paling signifikan salafi yang super-rigid dan keras itu.</p>
<p>Bahkan Imam Samudra yang terlibat dalam tragedi bom Bali 12 Oktober 2002, sebagaimana dalam biografinya, Aku Melawan Teroris, mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf al-shalih. Imam Samudra dengan klaim ajaran salafiyahnya bahkan menampilkan sosok penggiat Islam garis keras yang dengan terang-terangan menyatakan &#8220;aku memang demen yang ribut-ribut dan berbau kematian&#8221;, kendati dinyatakan pula bahwa dirinya bukanlah seorang anarkis dan paranoid.</p>
<p>Pada titik inilah kaum salafi &#8220;radikal&#8221; kemudian bersentuhan dengan format keagamaan fundamentalisme dan revivalisme Islam. Mereka seolah mendaur ulang salafiyah Wahabbiyah sekaligus bersinergi dengan neo-revivalisme Ikhwanul Muslimin, Jama&#8217;at-i-Islamy, bahkan Taliban dalam bermacam ragam tampilan. Dalam konteks ini pula wajah Islam yang serba harfiah dan doktriner itu bersenyawa dengan militansi dan gerak politik ideologis yang sama kakunya, sehingga melahirkan polarisasi dan konflik keagamaan yang seringkali keras.</p>
<p>Maka, ketika kaum salafi berbeda dan berebut tafsir, jangan salah bahwa mereka tidak terlalu sulit untuk saling berbenturan paham dengan keras. Baik karena salafiyah maupun tidak, manakala Islam dikonstruksi serba harfiah dan doktriner dengan klaim kebenaran dan tafsir mutlak, maka yang muncul adalah perselisihan keras dan tajam.</p>
<p>Absolutisasi pandangan tentang Islam memang selalu menjadi titik rawan lahirnya perseteruan. Islam salafiyah maupun penganut Islam &#8220;murni&#8221; lainnya, sepanjang selalu menganggap dirinya paling Islami sambil menganggap pihak lain tidak Islami, maka pada saat itulah ruang untuk kenisbian paham dan toleransi menjadi menyempit.</p>
<p>Selalu ada rujukan teologis untuk bertengkar keras memperebutkan tafsir Islam. Al-Shadek Al-Nahyoum menyebutnya sebagai fenomena Islam dhidhu&#8217; Al-Islam, Islam dengan ikon nakirah (tak berpredikat, tak bernama) versus Al-Islam dengan idiom ma&#8217;rifah (berpredikat, bernama), yang melahirkan perbedaan paham dan pandangan yang serba diametral. Manakala perbedaan tafsir itu bersenyawa dengan urusan politik, maka wilayah perselisihan menjadi kian keras. Politik dan agama bahkan menjadi sarat ambisi untuk memenangkan wilayah kekuasaan, baik kekuasaan diniyah maupun dakwah sekaligus dunyaawiyah.</p>
<p>Dalam konteks gerakan salafiyah, fenomena konflik keagamaan tersebut juga menampilkan genre baru kaum salafi yang radar teologis dan ideologisnya begitu sensitif untuk saling menegasikan dan bertikai paham dengan keras. Ketika kaum salafi maupun sesama kelompok Islam lain saling berebut tafsir keagamaan dengan harga mati, maka seringkali wilayah perseteruan berbuntut rumit.</p>
<p>Paham agama yang serba doktrinal dan absolut, ditambah ambisi-ambisi kekuasaan duniawi dan fanatisme hizbiyah yang tinggi, kemudian bersenyawa dengan situasi krisis dan marjinal yang serba menekan, akan melahirkan konflik paham dan kepentingan agama yang keras. Sementara ruang dialog yang disediakan pun bukan wahana cair untuk berwacana, melainkan masuk ke wilayah pertempuran saling memenangkan tafsir, sambil melibatkan massa masing-masing.</p>
<p>Kalau boleh berharap, jangan sampai tesis Thariq Ali tentang benturan antar-fundamentalisme (the clash of fundamentalism) bersemi di tubuh umat Islam pada saat ini. Perbedaan paham tak perlu berbuntut permusuhan dan tindakan kekerasan. Wacana keislaman pun semestinya tak berujung ke pengadilan. Di titik inilah betapa cahaya kearifan dari setiap elite dan kelompok Islam untuk mengutamakan kemaslahatan bersama menjadi sangat penting laksana mutiara.</p>
<p>Islam itu sangatlah luas melampaui hamparan samudra, tak perlu diperkecil ke wilayah sempit. Boleh berbeda paham, tapi tak perlu bermusuhan. Jika tak mampu bersatu, setidaknya tak perlu saling mengganggu. Toleran dalam perbedaan perlu diutamakan, sambil saling memberi maaf. Itulah kearifan Islam yang autentik. Wa&#8217;tashimu bi habl Allah jami&#8217;a wa laa tafarraquu!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=79&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2009/04/23/ketika-salafi-berebut-tafsir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Penakut, tidak lah yau !</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/11/14/anak-penakut-tidak-lah-yau/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/11/14/anak-penakut-tidak-lah-yau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2007 13:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyatul Aulad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/11/14/anak-penakut-tidak-lah-yau/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seorang manusia, perasaan takut wajar dan manusiawi dimiliki oleh setiap orang. Jangankan anak-anak, orang dewasapun pada level tertentu mengalami rasa takut terhadap jenis obyek ketakutan yang berbeda. Obyek ketakutan sendiri, dapa dibagi tiga, yaitu: Ketakutan terhadap suatu benda atau binatang tertentu. Misalnya api, kecoa, tikus dan lain-lain. Ketakutan terhadap situasi tertentu. Misalnya takut akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=77&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[</p>
<p><a href="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/11/windowslivewriteranakpenakuttidaklahyau-12baeteratay1.jpg"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" height="70" src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/11/windowslivewriteranakpenakuttidaklahyau-12baeteratay.jpg?w=240&#038;h=70" width="240" border="0"></a> </p>
<p>Sebagai seorang manusia, perasaan takut wajar dan manusiawi dimiliki oleh setiap orang. Jangankan anak-anak, orang dewasapun pada level tertentu mengalami rasa takut terhadap jenis obyek ketakutan yang berbeda.</p>
<p>Obyek ketakutan sendiri, dapa dibagi tiga, yaitu:
<ol>
<li>Ketakutan terhadap suatu benda atau binatang tertentu. Misalnya api, kecoa, tikus dan lain-lain.
<li>Ketakutan terhadap situasi tertentu. Misalnya takut akan tempat terbuka, di ketinggian.
<li>Ketakutan terhadap suatu suasana sosial tertentu. Misalnya takut berada di kelas baru.</li>
</ol>
<p>Ketakutan pada anak lebih banyak disebabkan oleh faktor keluarga dan lingkungan terdekat. Berikut beberapa tips agar anak lebih percaya diri menghadapi lingkungan luarnya:
<ol>
<li>Bangun konsep diri anak yang positif sehingga percaya diri sebagai modal untuk memasuki dunia luarnya. Usahakan anak mengenal namanya dengan segala predikat positif yang disandangnya.
<li>Beri kesempatan anak berinteraksi dengan dunia luarnya. Libatkan dalam setiap aktivitas sosial yang memungkinkan keterlibatannya. Misal menghadiri pertemuan keluarga, belanja di toko, dan lain sebagainya.
<li>Bangun komunikasi dengan anak selama proses interaksi berlangsung. Orang tua mengenalkan orang-orang, tempat, atau suasana yang terjadi selama kegiatan tersebut berlangsung.
<li>Menanyakan dan memahami perasaan yang dialami oleh anak selama kegiatan berlangsung.</li>
</ol>
<p>Demikian, beberapa hal yang membantu orang tua mengatasi ketakutan dan kecemasan putranya. Mudah-mudahan kita bisa menghadirkan generasi pemberani laksana umar bin Khattab. Amien&#8230;.
<p><em>Oleh: Liesta Montesa, S.Psi</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=77&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/11/14/anak-penakut-tidak-lah-yau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/11/windowslivewriteranakpenakuttidaklahyau-12baeteratay.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan &#8211; Bulan Tarbiyah</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/09/06/ramadhan-bulan-tarbiyah/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/09/06/ramadhan-bulan-tarbiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2007 03:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bheri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqhud Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Harakatul Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda & Pelajar/Mhs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/09/06/ramadhan-bulan-tarbiyah/</guid>
		<description><![CDATA[Ba&#8217;da Tahmid wa Sholawat, Subhanallah, betapa tidak! Allah SWT telah mendekatkan kita pada bulan yang suci, bulan yang mulia, yang senantiasa kita tunggu saat bersamanya. Ya Robbi, sampaikanlah kami di bulan Ramadhan. Setidaknya kita memiliki peluang yang luar biasa dalam bulan Ramadhan, diantaranya; Peluang peningkatan keimanan, tarbiyah imaniyah. Bukankah Allah SWT berkehendak supaya iman kita meningkat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=72&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/09/masjid.jpg" title="Masjid"><img src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/09/masjid.jpg?w=470" alt="Masjid" /></a></p>
<p>Ba&#8217;da Tahmid wa Sholawat,</p>
<p>Subhanallah, betapa tidak! Allah SWT telah mendekatkan kita pada bulan yang suci, bulan yang mulia, yang senantiasa kita tunggu saat bersamanya. Ya Robbi, sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.</p>
<p>Setidaknya kita memiliki peluang yang luar biasa dalam bulan Ramadhan, diantaranya;</p>
<ol>
<li>Peluang peningkatan keimanan, tarbiyah imaniyah. Bukankah Allah SWT berkehendak supaya iman kita meningkat derajatnya menjadi Taqwa, dalam surat Al Baqarah 183; &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa</em>&#8220;, didalam ibadah shoum hendaknya Allah-lah yang menjadi satu-satunya tujuan kita, satu-satunya pula yang harus kita tanamkan dalam qolbu sebagai &#8221;pengawas&#8221; terhadap ibadah shoum kita.</li>
<li>Peluang peningkatan ukhuwwah islamiyah, didalam pelajaran shoum adalah sebagaimana kita yang berpuasa bisa merasakan betapa lapar-haus dan lemah orang-orang yang sehari-harinya kekurangan makan, karena miskin. betapa banyak sekarang ini kita cermati kondisi kekurangan yang dialami saudara-saudara kita, baik kekurangan pangan karena miskin, namun ada juga kekurangan pangan karena adanya musibah yang menimpa. Yang lebih menyedihkan lagi banyak saudara seiman kita yang sekarang ini menderita karena mendapat tekanan dari orang-orang kafir yang dzholim menindas mereka. Allahumaghfirlana&#8230;, selayaknya dengan shoum melatih kepekaan kita dan menggerakan kita untuk semakin peduli dan membantu saudara kita yang kekurangan dan menderita.</li>
<li> Peluang peningkatan tsaqofah, MasyaAllah yang umum kita dapati pada bulan Ramadhan, semua masjid-masjid dan bahkan lembaga-lembaga keislaman berlomba-lomba mengadakan kegiatan kajian keilmuan, kajian keislaman. Maka jadilah bulan ramadhan ini layaknya &#8220;semester pendek&#8221; untuk menempuh pendidikan islam.</li>
<li>Peluang tarbiyah dakwiyah. Pada bulan ramadhan, manusia mudah tersentuh dengan seruan - dakwah, yang sebelumnya tidak pernah singgah di masjid, kini mereka berbondong-bondong ke masjid, meskipun hanya di waktu sholat tarawih. yang sebelumnya subuh terasa sepi di masjid, di bulan ini subuh di masjid penuh!, mereka adalah peluang dakwah. Kapan lagi kita bisa dengan mudah mengumpulkan manusia untuk mendengarkan seruan keimanan, wahai ikhwah! kesempatan antum terbuka saat ini untuk menyongsong syurga Allah melalui ajakan &#8211; seruan &#8211; dakwah kepada keluarga dan saudara-saudara di sekeliling kita.</li>
</ol>
<p>WaLLahu a&#8217;lam bishowab</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=72&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/09/06/ramadhan-bulan-tarbiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bfc26d2a9da468eafc617e713eac4fce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bheri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/09/masjid.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/03/05/tujuh-indikator-kebahagiaan-dunia/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/03/05/tujuh-indikator-kebahagiaan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 08:34:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<category><![CDATA[Sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/03/05/tujuh-indikator-kebahagiaan-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=71&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[</p>
<p><em><a href="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/03/windowslivewritertujuhindikatorkebahagiaandunia-e914tsunami-srilangka-allah2.jpg"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" height="141" src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/03/windowslivewritertujuhindikatorkebahagiaandunia-e914tsunami-srilangka-allah-thumb.jpg?w=165&#038;h=141" width="165" border="0"></a> </em></p>
<p><em>Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, <br />disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana</em></p>
<p>Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi <br />SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, <br />dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu <br />pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi <br />imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi&#8217;in (generasi <br />sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan <br />kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator <br />kebahagiaan dunia, yaitu :</p>
<p><strong>Pertama, Qalbun syakirun</strong> atau hati yang selalu bersyukur.<br />Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona&#8217;ah), <br />sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah <br />nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur<br />sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun <br />yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan <br />keputusan Allah.<br />Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW <br />yaitu :<br />&#8220;Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari <br />kita&#8221;. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan <br />memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya <br />dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap &#8220;bandel&#8221; <br />dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan <br />kemudahan yang lebih besar lagi.<br />Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!</p>
<p><strong>Kedua. Al azwaju shalihah,</strong> yaitu pasangan hidup yang sholeh.<br />Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan <br />keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai <br />imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri <br />dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri <br />bila memiliki<br />suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak <br />istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang <br />istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar <br />biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan <br />suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki <br />seorang istri yang sholeh.</p>
<p><strong>Ketiga, al auladun abrar</strong>, yaitu anak yang soleh.<br />Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan <br />seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf <br />Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : &#8220;Kenapa pundakmu <br />itu ?&#8221; Jawab anak muda itu : &#8220;Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya <br />mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia <br />dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya <br />ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu <br />sisanya saya selalu menggendongnya&#8221; . Lalu anak muda itu bertanya: &#8221; <br />Ya Rasulullah, apakah aku<br />sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?&#8221;<br />Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: &#8220;Sungguh <br />Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi <br />anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu&#8221;. <br />Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita <br />ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua <br />kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang <br />soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin <br />dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.<br /><strong></strong></p>
<p><strong>Keempat, albiatu sholihah</strong>, yaitu lingkungan yang kondusif untuk <br />iman kita.<br />Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh <br />mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib <br />kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap <br />keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita <br />untuk selalu bergaul dengan<br />orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu <br />mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat <br />salah.<br />Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat <br />iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. <br />Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada <br />disekitarnya.<br />Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang <br />yang sholeh.</p>
<p><strong>Kelima, al malul halal</strong>, atau harta yang halal.<br />Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta <br />tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya <br />untuk kaya.<br />Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW <br />pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat <br />tangan. &#8220;Kamu berdoa sudah bagus&#8221;, kata Nabi SAW, &#8220;Namun sayang <br />makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara <br />haram, bagaimana doanya dikabulkan&#8221;. Berbahagialah menjadi orang <br />yang hartanya<br />halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal <br />juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin <br />bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. <br />Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga <br />kehalalan hartanya.</p>
<p><strong>Keenam, Tafakuh fi dien</strong>, atau semangat untuk memahami agama.<br />Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-<br />ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang <br />untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan <br />ciptaan-Nya.<br />Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin <br />ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya <br />kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya <br />bagi hatinya.<br />Semangat memahami agama akan meng &#8220;hidup&#8221; kan hatinya, hati <br />yang &#8220;hidup&#8221; adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam <br />dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh<br />semangat memahami ilmu agama Islam.</p>
<p><strong>Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.<br /></strong>Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, <br />yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang <br />mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya <br />akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa <br />mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power <br />syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya <br />menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap <br />kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila <br />ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan <br />orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk <br />akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia <br />untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan <br />bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk <br />meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh<br />harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya <br />seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat &#8220;hidup&#8221; orang-orang <br />yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya <br />baroqah.</p>
<p>Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator <br />kebahagiaan dunia.<br />Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah <br />indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk <br />memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan <br />se-khusyu&#8217; mungkin membaca doa `sapu jagat&#8217; , yaitu doa yang paling <br />sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa <br />tersebut &#8220;Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw&#8221; (yang artinya &#8220;Ya <br />Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia &#8220;), mempunyai makna bahwa <br />kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan <br />dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, <br />pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau <br />lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur&nbsp; yang baroqah.<br />Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam <br />genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja <br />sudah patut kita syukuri.<br />Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu &#8220;wa fil <br />aakhirati hasanaw&#8221; (yang artinya &#8220;dan juga kebahagiaan akhirat&#8221;), <br />untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan <br />akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. <br />Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk <br />surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.<br />Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap <br />hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket <br />masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur <br />hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan <br />Allah. Kata Nabi SAW, &#8220;Amal soleh yang kalian lakukan tidak<br />bisa memasukkan kalian ke surga&#8221;. Lalu para sahabat <br />bertanya: &#8220;Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?&#8221;. Jawab <br />Rasulullah SAW : &#8220;Amal soleh saya pun juga tidak cukup&#8221;. Lalu para <br />sahabat kembali bertanya : &#8220;Kalau begitu dengan apa kita masuk <br />surga?&#8221;. Nabi SAW kembali menjawab : &#8220;Kita dapat masuk surga hanya <br />karena rahmat dan kebaikan Allah semata&#8221;.<br />Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya <br />bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan <br />rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, <br />Amiin).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=71&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/03/05/tujuh-indikator-kebahagiaan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/03/windowslivewritertujuhindikatorkebahagiaandunia-e914tsunami-srilangka-allah-thumb.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Unsur Manusia</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/02/13/tiga-unsur-manusia-2/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/02/13/tiga-unsur-manusia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Feb 2007 07:49:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/02/13/tiga-unsur-manusia-2/</guid>
		<description><![CDATA[Motto lama yang cukup terkenal tentang kejiwaan atau diri manusia &#8220;Mens sana in corpore sano&#8221; dengan makna kurang lebih maknanya &#8220;didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat&#8221;, setelah direnungkan kembali ternyata tidak 100% benar. Hanya dari sisi uji kalimat saja kita bisa memandang, bahwa tidak semua orang yang berbadan sehat, memiliki&#160;jiwa yang&#160;sehat. Demikian pula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=67&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/02/windowslivewritertigaunsurmanusia-dc17lapindo-blowup-allah22.jpg"><img style="border-width:0;" height="116" src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/02/windowslivewritertigaunsurmanusia-dc17lapindo-blowup-allah-thumb2.jpg?w=153&#038;h=116" width="153" border="0"></a> </p>
<p>Motto lama yang cukup terkenal tentang kejiwaan atau diri manusia &#8220;<em>Mens sana in corpore sano</em>&#8221; dengan makna kurang lebih maknanya &#8220;didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat&#8221;, setelah direnungkan kembali ternyata tidak 100% benar. Hanya dari sisi uji kalimat saja kita bisa memandang, bahwa tidak semua orang yang berbadan sehat, memiliki&nbsp;jiwa yang&nbsp;sehat. Demikian pula sebaiknya, kita dapati manusia yang memiliki masalah dengan kejiwaan secara permanen atau keturunan, ternyata bisa memiliki kesehatan fisik.</p>
<p>Bagaimana islam memandang tentang diri manusia ?</p>
<p>Allah menciptakan manusia terdiri dari tiga unsur; jasad, ruh, akal. Sebagaimana dalam surat At Tahrim:66 Allah SWT berfirman <em>&#8220;dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke <strong>dalam rahimnya</strong> sebagian dari <strong>ruh</strong> (ciptaan) Kami, dan dia <strong>membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya</strong>, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.&#8221;</em> </p>
<p>dan Surah al-Mukminun:13-14: &#8220;<i>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik&#8221;</i></p>
<p>dan Surah Al-Imran:191 <em>&#8220;(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): &#8220;Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.&#8221;</em></p>
<p>&#8211;to be continued&#8211;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=67&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/02/13/tiga-unsur-manusia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/02/windowslivewritertigaunsurmanusia-dc17lapindo-blowup-allah-thumb2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dakwah Fardiyah</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/19/kiat-praktis-dakwah-fardiyah/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/19/kiat-praktis-dakwah-fardiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Dec 2006 02:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqhud Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda & Pelajar/Mhs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/19/kiat-praktis-dakwah-fardiyah/</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata untuk berdakwah utamanya harus melalui pendekatan personal, baik dari orang terdekat kita atau orang yang sama sekali baru kita jumpai atau baru berkenalan. Utamanya hal ini dilakukan untuk kita yang tidak berkapasitas sebagai publik figure, ulama, atau ustadz maka dakwah Fardiyah (berdakwah kepada perorangan) menjadi pilihan utama yang bisa dan sangat mungkin dilakukan.   Setidaknya ada tiga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=51&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><a href="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterkiatpraktisdakwahfardiyah-92c2jual-ayam23.jpg"><img border="0" width="184" src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterkiatpraktisdakwahfardiyah-92c2jual-ayam-thumb3.jpg?w=184&#038;h=125" height="125" style="border:0;" /></a> </strong></em></p>
<p>Ternyata untuk berdakwah utamanya harus melalui pendekatan personal, baik dari orang terdekat kita atau orang yang sama sekali baru kita jumpai atau baru berkenalan. Utamanya hal ini dilakukan untuk kita yang tidak berkapasitas sebagai publik figure, ulama, atau ustadz maka dakwah Fardiyah (berdakwah kepada perorangan) menjadi pilihan utama yang bisa dan sangat mungkin dilakukan.  </p>
<p>Setidaknya ada tiga landasan dalam melakukan dakwah fardiyah, diambil dari <a href="http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/7/cn/4862">syariahonline</a> ;</p>
<p><strong><em>Landasan utama</em></strong> dakwah fadiyah adalah <u>kematangan pemahaman atas ajaran Islam</u>. Ini modal dasar yang paling asasi untuk dimiliki oleh siapa pun yang ingin berdakwah. Dengan kematangan pemahaman dan kelengkapan wawasan Islam hingga detail perkaranya, seseorang bisa memahami pada sisi mana peluang dakwah itu bisa ditawarkan.<br />
Misalnya bila menghadapi seorang seniman untuk dijadikan objek dakwah, maka paling tidak ?jalan masuk? yang bisa dijajaki adalah bicara tentang apresiasi Islam terhadap seni. Karena bagi seorang seniman, bila disampaikan bahwa Islam memberi ruang untuk seni dan seni itu punya peran yang penting, tentu dia akan merasa diakui eksistensi dirinya di dalam dakwah itu.<br />
Sedangkan bila seorang da?i tidak punya wawasan yang luas dan mendalam atas ajaran Islam, bisa jadi belum apa-apa dia akan mengharamkan ini dan itu. Hasilnya alih-alih berhasil dalam dakwah, sebaliknya seniman itu sudah kabur duluan. Karena belum apa-apa sudah dilarang dan dituding-tuding. Padahal ada sekian banyak ruang yang bisa ditempati buat sosok seniman di dalam ajaran Islam.<br />
<strong><em>Landasan kedua</em></strong> adalah <u>kemampuan memahami latar belakang dan alur berpikir objek dakwah</u>. Sebab apapun tindakan yang diambil seseorang, pastilah lahir dari sebuah logika dan paradigma berpikir tertentu. Baik bersifat internal maupun kesternal. Nah, logika dan paradigma inilah yang harus dipahami, bahkan bila perlu dikuasai untuk dijadikan hujjah dalam dakwah.<br />
Bisa jadi seseorang tidak bisa begitu saja ?dihujani? dengan ayat dan hadits. ?Penghujanan? dengan ayat dan hadits hanya efektif buat para ahli syariat yang sejak awal logika berpikirnya adalah mencari dasar pijakan dari Al-Quran Al-Karim dan Sunnah.<br />
Sementara sekian banyak lapisan masyarakat belum lagi sampai demikian dalam logika berpikirnya. Sehingga meski seribu ayat dibacakan, belum tentu bisa menggerakkan hatinya. Tentu kita tidak bisa memvonis mereka sebagai kufur terhadap kitab dan sunnah. Bukan itu masalahnya. Tetapi cobalah pelajari paradigma berpikirnya dan mulailah meminjam paradigma berpikirnya itu untuk diarahkan kepada hal-hal yang selaras dengan Islam.<br />
Landasan ketiga adalah metode pendekatan yang lembut, baik dan tidak terkesan ambisius. Jangan sampai dalam berdakwah fardiyah itu, objek dakwah langsung merasa akan di?kerjai?. Namun bangunlah keakraban, kedekatan dan persahabatan yang tulus dengan objek dakwah itu. Dan boleh jadi untuk periode awal seperti itu, kita belum diharuskan untuk langsung membombardirnya dengan dalil dan hujjah. Tapi bangunlah simpati dan kemesraan hati. Persis seperti ungkapan : <strong>Inna muhibba liman yuhibbu muthii?. </strong>Artinya bahwa orang yang mencintai seseorang pastilah taat kepadanya.<br />
Misalnya dengan berbicara tentang hal-hal yang disukainya, atau sama-sama melakukan hobbi bersama, atau pergi dan jalan-jalan bersama. Kebersamaan itu akan melahirkan kedekatan hati. Dan pada saat itulah sebenarnya nilai-nilai dakwah baru bisa mulai diberikan sedikit demi sedikit.<br />
<strong><em>Landasan ketiga</em></strong> adalah <u>masalah doa dan kesabaran</u>. Dakwah itu sifatnya mengajak, namun Allah SWT jualah yang akan memberikan hidayah kepadanya. Kita tidak punya otoritas untuk memberi hidayah.<br />
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.(QS. Al-Qashash : 56).<br />
Jadi doakanlah objek dakwah fardiyah Anda setiap hari dan bersabarlah atas proses sunnatullahnya. Karena tugas Anda hanya menyampaikan dan berusaha berdakwah. Anda tidak bertanggung-jawab untuk memberinya hidayah.</p>
<p>Juga ada kiat-kiat praktis dalam melakukan Dakwah Fardiya, Berikut Cuplikan <strong>&#8220;Kiat Praktis Dakwah Fardiyah&#8221;</strong> dari web <a href="http://www.kotasantri.com/">Kotasantri.com</a>;</p>
<p><em><strong>Penulis : Syekh Mustafa Masyhur</strong></em><br />
<strong><a href="http://www.kotasantri.com/mimbar.php?aksi=Cetak&amp;sid=337">KotaSantri.com</a> : </strong>Merekrut manusia ke jalan Allah SWT merupakan amaliyah yang mahal. Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, di antaranya melalui dakwah fardiyah. Banyak pengalaman orang lain dalam merekrut orang melalui dakwah fardiyah. Terkadang memang melakukan dakwah fardiyah memerlukan kiat tersendiri.<br />
Berikut ini kiat praktis dakwah fardiyah : <br />
1. Berupaya untuk membina hubungan dan mengenal setiap orang yang hendak didakwahi dan membangunnya dengan baik. Upaya ini untuk menarik simpati darinya agar hatinya lebih terbuka dan siap menerima perbincangan yang dapat diambil manfaat sehingga pembicaraan berikutnya dapat berlangsung terus. Pembinaan hubungan dengannya dilakukan secara intens sehingga obyek dakwah mengenal orang yang mengajaknya sebagai orang yang enak untuk berteman dan berkomunikasi.<br />
2. Membangkitkan iman yang mengendap dalam jiwa. Pembicaraan hendaklah tidak langsung diarahkan pada masalah iman, namun sebaiknya berjalan secara tabi&#8217;i, seolah-olah tidak disengaja dengan memanfaatkan moment tertentu untuk memulai mengajaknya berbicara tentang persoalan keimanan. Melalui pembicaraan yang tabi&#8217;i, persoalan yang dipaparkan akan mudah mendapatkan sambutan. Dari sambutan yang disampaikannya mengenai beberapa hal dapat ditindaklanjuti dengan meningkatkan gairah keimanannya. Gairah keimanan yang timbul darinya akan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Dari situlah muncul perhatian yang besar terhadap masalah-masalah keislaman dan keimanan.<br />
3. Membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan mengenalkan perkara-perkara yang bernuansa ketaatan kepada Allah dan bentuk-bentuk ibadah yang diwajibkan. Pada tahap ini perlu pula dibekali dengan bahan-bahan bacaan dari referensi yang sederhana, seperti Dasar-dasar Islam, Prinsip-prinsip Islam (Abul &#8216;Alaa Al Maududi), dan lain-lainnya. Disamping bekalan bahan-bahan bacaan juga perlu diperkenalkan dengan lingkungan yang baik dan komunitas masyarakat yang shalih agar dapat menjaga nilai-nilai yang telah tertanam dan meneladani kehidupan orang shalih. Mutaba&#8217;ah dan pemantauan dalam tahap ini memerlukan kesabaran yang tinggi sehingga dapat membimbing perjalanannya di atas jalan dakwah dan terhindar dari faktor-faktor yang buruk.<br />
4. Menjelaskan tentang pengertian ibadah secara syamil agar memiliki kepahaman yang shahih tentang ibadah disertai niat yang benar dan berdasarkan syara&#8217;. Pemahaman yang tidak sempit terhadap ibadah. Ibadah bukan sebatas rukun Islam yang empat saja (shalat, puasa, zakat, dan haji). Akan tetapi pengertian ibadah yang luas sehingga memahami bahwa setiap ketundukan seorang hamba padaNya dengan mengikuti aturan yang telah digariskan akan bernilai ibadah.<br />
5. Menjelaskan kepada obyek dakwah bahwa keberagamaan kita tidak cukup hanya dengan keislaman diri kita sendiri. Hanya sebagai seorang muslim yang taat menjalankan kewajiban ritual, berperilaku baik dan tidak menyakiti orang lain lalu selain itu tidak ada lagi. Melainkan keberadaan kita mesti mengikatkan diri dengan keberadaan muslim lainnya dengan berbagai macam problematikanya. Pada tahap ini pembicaraan diarahkan untuk menyadarkan bahwa persoalan Islam bukan urusan perorangan melainkan urusan tanggung jawab setiap muslim terhadap agamanya. Perbincangan ini dilakukan agar mampu mendorongnya untuk berpikir secara serius tentang bagaimana caranya menunaikan tanggung jawab itu serta menjalankan segala tuntutan-tuntutannya.<br />
6. Menjelaskan kewajiban untuk mengemban amanah umat dan permasalahannya. Kewajiban di atas tidak mungkin dapat ditunaikan secara individu. Masing-masing orang secara terpisah tidak akan mampu menegakkannya. Maka perlu sebuah jama&#8217;ah yang memadukan potensi semua individu untuk memperkuat tugas memikul kewajiban berat tersebut. Dari tahap ini obyek dakwah disadarkan tentang pentingnya amal jama&#8217;i dalam menyelesaikan tugas besar ini.<br />
7. Menyadarkan padanya tentang kepentingan sebuah jama&#8217;ah. Pembicaraan ini memang krusial dan rumit sehingga memerlukan hikmah dan kekuatan argumentasi yang meyakinkan. Oleh karena itu harus dijelaskan padanya bahwa bergabung dengan sebuah jama&#8217;ah harus meneliti perjalanan jama&#8217;ah tersebut. Jangan sampai terburu-buru untuk menentukan pilihan terhadap sebuah jama&#8217;ah yang akan dijadikannya sebagai wahana merealisasikan dasar-dasar Islam.<br />
Demikianlah langkah-langkah dalam melaksanakan dakwah fardiyah. Selamat mengamalkan, semoga Allah SWT memudahkan kita membimbing saudara-saudara kita ke jalanNya. Aamiin.</p>
<p>Orang yang besar dan agung ialah yang mengerti apa yang sedang dikerjakannya dan apa yang harus ia lakukan. <em>&#8220;Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?&#8221;</em>(QS. Al-Anbiyaa&#8217; : 50).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=51&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/19/kiat-praktis-dakwah-fardiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterkiatpraktisdakwahfardiyah-92c2jual-ayam-thumb3.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kaidah-Kaidah Dasar Islam</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/14/kaidah-kaidah-dasar-islam/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/14/kaidah-kaidah-dasar-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Dec 2006 09:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/14/kaidah-kaidah-dasar-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Kaidah yang pertama dan utama adalah keyakinan terhadap Allah sebagai Kholiq (Pencipta), serta tauhid Rubbubiyah (Tuhan), Ulihiyah (Ilah, segala kepadaNya), dan Mulkiyah (Raja) Kaidah kedua Tentang Fungsi dan Tugas Penciptaan Manusia, Manusia dikaruiniai akal / fikiran, utk disiapkan menerima amanah sebagai khalifatul fil ardh, sebagai pemegang Mandat atas kekuasaan mengatur sumberdaya di Bumi/Dunia &#8220;Rule of [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=48&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterkaidahkaidahdasarislam-a6b4ukhuwah3.jpg"><img style="border-width:0;" height="108" src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterkaidahkaidahdasarislam-a6b4ukhuwah-thumb13.jpg?w=108&#038;h=108" width="108" border="0"></a>
<p><strong>Kaidah yang pertama</strong> dan utama adalah keyakinan terhadap Allah sebagai Kholiq (Pencipta), serta tauhid Rubbubiyah (Tuhan), Ulihiyah (Ilah, segala kepadaNya), dan Mulkiyah (Raja)
<p><strong>Kaidah kedua</strong> Tentang Fungsi dan Tugas Penciptaan Manusia, Manusia dikaruiniai akal / fikiran, utk disiapkan menerima amanah sebagai khalifatul fil ardh, sebagai pemegang Mandat atas kekuasaan mengatur sumberdaya di Bumi/Dunia
<p>&#8220;Rule of the Game&#8221; atau aturan main yang digariskan Allah terhadap manusia adalah :
<ul>
<li>Taat (ikut perintah, jauhi larangan ~ Iman &amp; Taqwa ), beramal sholih &#8211;&gt; Syurga
<li>Khianat, sesat, Syirik (jahil) &#8211;&gt; Neraka </li>
</ul>
<p><strong>An Nahl 97.</strong> <em>Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.</em>
<p>Sebagai gambaran pemikiran kita berikut <em>Historical Mind</em> perihal sistematika yang Allah rancang untuk manusia :
<ol>
<li>Awalnya ~ Adam mendapatkan hidayah langsung dari Allah,
<li>Kemudian anak-cucunya, mulai menyimpang, memalsukan, menginterpretasikan ayat2 semau mereka. &#8211;&gt; mereka golongan jahiliyah
<li>Tapi Allah tidak binasakan manusia atas kejahilanya, malah Allah menurunkan/mengutus orang2 yang taat padaNYA dan memuliakan manusia-Nabi </li>
<li>Sampai dengan utusan Allah terakhir, Nabi Muhammad SAW, sebagai penutup para nabi mengajarkan ajaran Dienul Islam yang sempurna</li>
</ol>
<p><strong>Ibrahim &#8211; 24. </strong><em>Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit</em>,</p>
<p><strong>Ibrahim &#8211; 25.</strong> <em>Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=48&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/14/kaidah-kaidah-dasar-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterkaidahkaidahdasarislam-a6b4ukhuwah-thumb13.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hadist Arbain</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/hadist-arbain/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/hadist-arbain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2006 08:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Hadist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/hadist-arbain/</guid>
		<description><![CDATA[Tentu sudah banyak kita mengenal tentang Hadist Arbain An Nawawy, berikut ini kalau anda berminat, Bisa download PDF File nya disini<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=40&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://darussalampk.com/onlineshop/images/audio/cassette/ca63.jpg" alt="Arbain Nawawi" /><br />
Tentu sudah banyak kita mengenal tentang Hadist Arbain An Nawawy, berikut ini kalau anda berminat,<br />
Bisa download PDF File nya <a href="https://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/arbainnawawiarab.pdf">disini</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=40&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/hadist-arbain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://darussalampk.com/onlineshop/images/audio/cassette/ca63.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Arbain Nawawi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masih Tentang Poligami Lagi</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/masih-tentang-poligami-lagi/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/masih-tentang-poligami-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2006 06:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abiruni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/masih-tentang-poligami-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[Menyikapi tulisan Faqihuddin Abdul Kodir di Kompas tentang Poligami (cek cuplikan blog lain), tapi yang muncul dibenak bukan masalah pembenaran atau penolakan masalah poligami. Kenapa sekarang kita baru ribut tentang poligami sah atau tidak, boleh atau tidak dst. katakanlah, masalah poligami itu hukum negara kita masih “mengambang” atau “abu-abu”. Kenapa lebih diributkan ? dibanding masalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=39&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/02/poligam1.jpg?w=470" alt="Poligamier" /><br />
Menyikapi tulisan Faqihuddin Abdul Kodir di Kompas tentang Poligami (cek  <a href="http://servocenter.wordpress.com/2006/12/04/poligami-aa-gym/">cuplikan blog lain</a>), tapi yang muncul dibenak bukan masalah pembenaran atau penolakan masalah poligami.<br />
Kenapa sekarang kita baru ribut tentang poligami sah atau tidak, boleh atau tidak dst. katakanlah, masalah poligami itu hukum negara kita masih “mengambang” atau “abu-abu”. Kenapa lebih diributkan ? dibanding masalah yang hukumnya sudah benar2 jelas tapi tindakan aparatur negara nggak jelas2 ? (kasus selingkuh &amp; zina Yahya Zaini &#8211; Maria Eva).</p>
<p>Pada kenyataanya sebenarnya siapa yg memelintir dan siapa yang jadi korban pelintiran itu, sepertinya dunia udah mulai berbalik.</p>
<p>Dari sini saya menilai lebih kepada sebuah konspirasi akan 2 hal;</p>
<p>Pembelokan wacana masyarakan dari kasus kebobrokan moral dan maraknya perzinaan. Ini memang aneh, kalau video yg beredar itu pelakunya mahasiswa atau “wong cilik”, penanganan kasus tsb adalah metode “tangkap dulu, baru tanyain”, tapi kalau yg ini, gak jelas alias mlungkar mlungker, dan publik digiring pada kasus yang lain, Aa Gym, ben lali. Dan rupanya YZ memilih strategi “diam itu emas”, cukup ampuh.</p>
<p>Motif SARA, konon semakin buruk citra Aa Gym atau citra tentang Poligami yang lebih lekat menempel pada citra Islam, semakin disukai pihak2 tertentu yang tidak pro-Islam. Makanya bisa dipilah mana mediamasa yang mengulas terus hari demi hari tentang poligami ini kebanyakan dari grup media masa tertentu (+). Sebut saja kompas, (dg group Tribun-XXX), TV Metro, SCTV, RCTI. Anehnya pula ternyata pemberitaanya full bumbu-bumbu, sehingga kalau krosscek dengan media satu dan lainya, rupanya tampak benar bedanya sehingga memperkuat adanya kemungkinan sebuah konsporasi tsb.<br />
Supaya rekans pada ngerti, hadis yang dicuplik tsb pada artikel diatas secara pemahaman telah dipelintir, <a href="http://www.ahlussunnah-jakarta.org/detail.php?no=161">cek disini</a></p>
<p>cuplikanya:<br />
&#8220;Mereka tidak membawakan hadist lengkap dengan lafalnya akan tetapi merangkum kisah dengan rangkuman yang buruk untuk dipakai dalil bahwa Nabi Saw melarang poligami, bahkan sebagian mereka terang-terangan berdalil dengan kisah ini untuk mengharamkan poligami! Mempermainkan agama dan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya. Lantas mereka meninggalkan<br />
kelanjutan kisah yang di sana terdapat bantahan atas kedustaan mereka -saya tidak katakan pendalilan mereka- yaitu perkataan Rasulullah Saw pada kejadian yang sama,”Dan saya bukannya mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram, akan tetapi demi Allah tidak akan bersatu anak Rasulullah SAW dengan anak musuh Allah disatu tempat selama-lamanya” </p>
<p>Jangan mudah tertipu argumentasi dan model penulisan yg mengesankan logika saja, agama itu wahyu isinya nggak semua harus di logika. Sebagianya adalah doktrin, akibat keterbatasan otak manusia. </p>
<p>Wallahua’lam</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=39&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/12/masih-tentang-poligami-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/056e8e6e4d733ec7b78b5d5b11b5cbe9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abiruni</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2007/02/poligam1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Poligamier</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dasar-dasar untuk Memahami Al-Quran &#171; Suryaningsih</title>
		<link>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/07/dasar-dasar-untuk-memahami-al-quran-suryaningsih/</link>
		<comments>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/07/dasar-dasar-untuk-memahami-al-quran-suryaningsih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Dec 2006 08:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bheri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>
		<category><![CDATA[Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/07/dasar-dasar-untuk-memahami-al-quran-suryaningsih/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel diambil dari Suryaningsih.wordpress.com , karena menarik dan khawatir kehilangan text, berikut kami ambil seluruhnya. Terimakasih Suryaningsih &#38; mohon keikhlasanya. ~~~~~~~~~~~~~~ Artikel berikut ini merupakan ringkasan dari kitab Mafaatiihu Li at-Ta’ammuli ma’al Qur’aan. Mudah-mudahan semakin menggugah semangat kita untuk mempelajari, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan Al-Quran. Memahami Al-Quran hukumnya adalah wajib berdasarkan ayat berikut:“Maka mengapakah mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=34&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterdasardasaruntukmemahamialquransuryanings-e61dbatikmushaf11.jpg"><img style="border-right:0;border-top:0;border-left:0;border-bottom:0;" height="174" src="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterdasardasaruntukmemahamialquransuryanings-e61dbatikmushaf1.jpg?w=240&#038;h=174" width="240" border="0"></a> </p>
<p>Artikel diambil dari Suryaningsih.wordpress.com , karena menarik dan khawatir kehilangan text, berikut kami ambil seluruhnya. Terimakasih Suryaningsih &amp; mohon keikhlasanya.</p>
<blockquote><p>~~~~~~~~~~~~~~</p>
</blockquote>
<p>Artikel berikut ini merupakan ringkasan dari kitab <em>Mafaatiihu Li at-Ta’ammuli ma’al Qur’aan</em>. Mudah-mudahan semakin menggugah semangat kita untuk mempelajari, memahami, menghafalkan, dan mengamalkan Al-Quran.</p>
<p><strong>Memahami Al-Quran hukumnya adalah wajib berdasarkan ayat berikut:<br /></strong><br />“<em>Maka mengapakah mereka tidak mau mentadabburi al-Qur’an? Apakah karena hati mereka terkunci mati?</em>” (QS 47:24)</p>
<p>Ada beberapa tahapan agar kita mampu untuk memahami dan mampu berinteraksi dengan Al-Quran.<a></a>
<ol>
<li>
<p>Memperhatikan adab tilawah.</p>
<li>
<p>Membaca satu surat, satu juz, atau satu ruku’ dengan pelan- pelan, khusyu’, tadabbur dan penuh penghayatan. Tidak mementingkan target dalam satu hari harus selesai satu surat, satu juz atau beberapa lembar.</p>
<li>
<p>Memperhatikan dan merenungi satu ayat, diperdalam untuk mendapatkan arti yang terkandung dalam ayat tersebut, dengan cara dibaca dengan penuh perasaan dan penghayatan, mendengarkan dari bacaan orang lain atau kaset dan dilakukan berulang&shy;-ulang sampai mendapat arti yang terkandung dalam ayat tersebut.</p>
<li>
<p>Mempelajari secara rinci, susunan kata, konteks kalimat, arti yang terkandung, sebab turunnya (<em>asbabun nuzul</em>), <em>i’rab</em>&nbsp; sampai betul-betul memahami seluk-beluk ayat tersebut dan berbagai sudut pandang.</p>
<li>
<p>Memahami korelasi ayat dengan kondisi sekarang.</p>
<li>
<p>Merujuk kepada yang dipahami oleh para <em>salafus shalih</em> terutama pemahaman para shahabat. Hal ini dikarenakan mereka lebih ahli dibanding Profesor Al-Quran terpintar saat ini pun, karena mereka mendapat petunjuk langsung dari Rasulullah saw. Oleh karena itu, dari aspek kesopanan dan aspek ilmiah, kita harus lebih mendahulukan pemahaman para shahabat. Hal ini untuk mencegah agar Al-Quran tidak difahami sesuai dengan hawa nafsu kita.</p>
<li>
<p>Mempelajari pendapat para ahli tafsir yang memiliki bobot ilmiah. </p>
</li>
</ol>
<p><strong>Wirid Harian Seorang Muslim dalam Membaca Al-Qur’an</strong>
<p>Allah swt, menyukai amal shalih yang <em>istimrar</em> berkesinambungan walaupun sedikit dibanding banyak tetapi kurang memperhatikan aspek kontinyuitasnya. Seorang muslim hendaknya merancang wirid harian untuk berinteraksi dengan Al-Quran, sebagai berikut:
<p>1. Wirid tilawah, tidak kurang sehari satu juz.
<p>2. Wirid hapalan menghapal 1 sampai tiga ayat setiap hari.
<p>3. Wirid tadabbur, mentadabburi Al-Qur’an 1 sampai 3 ayat setiap hari.
<p><strong>Kunci-kunci untuk Dapat Memahami dan Berinteraksi dengan Al-Quran</strong>
<ol>
<li>
<p>Memahami al-Quran sebagai kitab yang <em>syamil</em>&nbsp; mencakup seluruh urusan kehidupan.
<p>Al-Quran adalah kitab yang <em>syamil</em>, manhaj hidup yang sempurna, memiliki tabiat gerak yang hidup, membangun peradaban yang positif dan tetap berpengaruh sampai akhir zaman.
<p>Sebagian orang terperangkap untuk memandang Al-Quran dan satu sisi saja, misalkan hanya memandang Al-Quran dan ilmu pengetahuannya saja, sejarahnya saja, bahasanya saja, ataupun Al-Quran hanya dijadikan jampi-jampi sebagai obat saja, dsb.
<p>Kita tidak mengingkari bahwa semua hal itu dicakup oleh Al-Quran, bukan kita tidak mempelajari bagian-bagian itu semua tapi yang tidak boleh ialah hanya menghususkan diri kita pada satu sisi saja.
<p>Ada sebagian ulama yang membahas Al-Quran dari sisi akhlaq, sisi ekonomi, sosiologi, tata bahasa dan lain-lain. Ini adalah usaha yang sangat berharga dan kita tidak bisa mengesampingkannya. Tapi hendaklah orang yang mempelajari Al-Quran memahami bahwa Al-Quran adalah satu kerangka yang menyeluruh, menyeluruh dalam tabi’atnya, peranannya, risalah, mu’jizat, ilmu, tema-temanya, manhaj, undang-undang dan &shy;syari’atnya serta setiap perkara yang diisyaratkan dalam al-Qur’an. </p>
<li>
<p>Memfokuskan kepada tujuan utama Al-Quran.
<p>Sebagian manusia menggunakan Al-Quran dengan tujuan sampingan, tujuan furu’iyah atau sama sekali tidak sesuai dengan tujuan Al-Quran diturunkan. Seperti Al-Quran dijadikan untuk perlombaan, Al-Quran dibaca untuk orang mati saja, Al-Quran hanya diambil barakahnya dengan dijadikan azimat, ruqa’ dan tamimah. Al-Quran hanya dijadikan pajangan yang menghiasi rumah, mobil atau tempat-tempat lain.
<p>Mereka tidak menggunakan Al-Quran untuk membukakan hati, jiwa, perasaan dan<br />akal, sehingga mereka hidup tidak sesuai dengan tuntunan Al-Quran dalam seluruh lapangan kehidupan, baik kehidupan pribadi, rumah tangga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, yayasan-yayasan, negara dan sebagainya.
<p>Tujuan utama Al-Quran berkisar pada empat perkara berikut ini:
<ul>
<li>
<p>Al-Quran sebagai petunjuk jalan yang lurus menuju Allah (Al-Isra: 9,<br />as-Syura: 52, al-Maidah: 15 – 16). </p>
<li>
<p>Membentuk kepribadian muslim yang seimbang. Diantaranya adalah:
<ul>
<li>
<p>Menanamkan iman yang kuat. </p>
<li>
<p>Membekali akal dengan ilmu pengetahuan. </p>
<li>
<p>Memberi arahan untuk dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dan<br />sumber-&shy;sumber kebaikan yang ada di dunia. </p>
<li>
<p>Menetapkan undang-undang agar setiap muslim mampu memberikan sumbangsih dan kreatif untuk mencapai kemajuan.</p>
</li>
</ul>
<li>
<p>Membentuk masyarakat muslim yang betul-betul Qur’ani, yaitu masyarakat yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang merupakan penjelmaan Al-Quran dalam setiap gerak kehidupannya. Masyarakat yang diasuh dan dibimbing dengan arahan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, dan berjalan di bawah cahayanya, seperti masyarakat sahabat (al-Anfal 24). </p>
<li>
<p>Membimbing umat dalam memerangi kejahihiyyahan. </p>
</li>
</ul>
<li>
<p>Memperhatikan sisi harakah dalam menegakkan dakwah, jihad dan hukum<br />Islam, karena Al-Quran memiliki sifat (<em>waqi’iyah harakiyah</em>):
<ul>
<li>
<p><em>Jidiyatul harakiyah</em>. </p>
<li>
<p><em>Harakah dzatu marahil</em>. </p>
<li>
<p><em>Harakah daibah walwail mutajaddidah</em>. </p>
<li>
<p><em>Syari’at mengatur hubungan dengan kelompok non muslim</em>. </p>
</li>
</ul>
<li>
<p>Menjaga suasana pemikiran agar selalu ada dalam bingkai topik permasalahan yang terkandung dalam ayat yang sedang dibaca.
<p>Ketika membaca Al-Quran diperbolehkan untuk memperdalam satu ayat dari sisi ilmu pengetahuan, dan sisi tata bahasa atau yang lainnya, tapi hendaknya, perasaan, pemikiran, penghayatannya dan perhatiannya tetap pada pokok pikiran ayat yang sedang dibaca. </p>
<li>
<p>Menjauhi bertele-tele yang bisa menghalangi cahaya Al-Qur’an.
<p>Misalnya tenggelam dalam perbedaan pendapat tentang <em>qiraat, i’rab, balaghah</em>, asal kata, perbedaan-perbedaan masalah fiqih, mempertentangkan tokoh, tempat, tanggal kisah&shy;-kisah yang diungkap dalam Al-Quran. Misalnya mempertentangkan asal kata Malaikat, berapa jumlah Ashabul Kahfi dan lain-lain.
<p>Tapi itu semua bukan berarti tidak boleh dilakukan, boleh dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi dalam ilmu tafsir. </p>
<li>
<p>Menjauhi Israiliyyat (cerita-cerita palsu) dan menjauhi dari mempermasalahkan ayat-ayat yang <em>mutasyabihat</em>. </p>
<li>
<p>Memasuki Al-Quran tanpa didahului oleh asumsi dan opini tertentu.
<p>Hal ini untuk menghindarkan agar makna-makna Al-Quran tidak dipaksakan agar sesuai dengan asumsi yang telah dia pegang dan berusaha mencari-cari legitimasi atas pendapat yang ia pegang dan bukan mempelajari Al-Quran untuk meluruskan pemahaman dia.
<p>Seperti yang dilakukan oleh para shahabat apabila mereka membaca Al-Quran mereka melepaskan seluruh keyakinan dan persepsi mereka yang mereka pegang ketika masa jahiliyyah. </p>
<li>
<p>Tsiqah secara mutlak terhadap semua petunjuk, perintah, larangan dan berita yang diungkapkan oleh Al-Quran. </p>
<li>
<p>Memahami isyarat-isyarat yang terdapat dalam Al-Quran.
<p>Di dalam Al-Quran terdapat rahasia-rahasia arti yang terkandung yang tidak akan dipahami kecuali oleh orang-orang yang telah memilki kunci-kunci untuk berinteraksi dengan Al-Quran dan ia memiliki <em>bashirah</em>, limpahan keimanan dan kesiapan untuk hidup di bawah naungan Al-Quran.
<p>Seperti ayat keimanan mendorong orang untuk merasa diawasi oleh Allah, membaca tentang hari qiamat tergerak hatinya untuk takut akan adzab Allah, kemudian ia mampu memahami hubungan satu ayat dengan yang lain padahal ayat itu diturunkan dalam senggang waktu yang cukup jauh. </p>
<li>
<p>Mempunyai pemahaman bahwa satu kata atau kalimat dalam Al-Quran<br />mempunyai beberapa pengertian.
<p>Karena ayat Al-Quran sering diungkapkan dengan kalimat yang singkat tapi padat (I’jaz), seperti surat Al-Ashri, Imam Syafi’i mengatakan: “Kalaulah manusia mentadabburi surat al-Ashri tentu surat itu sudah cukup bagi mereka sebagai pegangan hidup” . Contoh lain al-Isra’: 16; al-Mujadilah: 5; al-A‘raf: 34; dan Thaha: 124. </p>
<li>
<p>Mempelajari realita shahabat dalam pengamalan al-Quran.
<p>Ibnu Mas’ud berkata, “Kami sulit menghafal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya.”
<p>Ibnu Umar berkata, “Para shahabat diberi iman sebelum Al-Quran, sehingga Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad menjelaskan hukum halal dan haram, lalu mereka berpegang teguh dengan ayat tersebut.”
<p>Contoh, ketika turun ayat yang memerintahkan untuk mengalihkan arah qiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram maka mereka serentak melaksanakan dengan penuh ketaatan dan komitmen. </p>
<li>
<p>Memahami bahwa Al-Quran tidak dibatasi dengan tempat dan zaman. </p>
<li>
<p>Memahami korelasi ayat-ayat Al-Quran dengan realita yang ada sekarang. </p>
<li>
<p>Merasa bahwa ayat-ayat Al-Quran ditujukan kepada dirinya. </p>
<li>
<p>Mempelajari Al-Quran dengan manhaj <em>talaqqi</em> yang benar (berhadap-hadapan dengan guru yang sudah diverifikasi bacaannya, bahkan kalau bisa ada silsilahnya sampai nyambung ke Rasulullah saw). </p>
<li>
<p>Menjauhkan diri dari perbedaan-perbedaan pendapat para ahli tafsir. </p>
</li>
</ol>
<p><strong>Memperhatikan Bagaimana para Shahabat ra Berinteraksi dengan Al-Quran.</strong>
<p>Para shahabat ra adalah generasi yang tumbuh dengan Al-Quran, hidup di bawah naungannya, menikmati ayat-ayatnya, berinteraksi dengan nash-nashnya, memahami petunjuk-petunjuknya. Mereka disinari oleh cahaya Al-Quran, sehingga mereka menjadi generasi Qurani yang unik.
<p>Menelaah bagaimana mereka merealisasikan Al-Quran dalam kehidupannya membantu kita untuk dapat meneladani mereka dan menempuh jalan yang pernah mereka tempuh.
<p>lbnu Mas’ud ra berkata: “Kami sulit menghapal lafadh Al-Quran tapi mudah mengamalkannya sedang orang sesudah kami mudah untuk menghapal tapi sulit mengamalkannya.”
<p>Ibnu Umar berkata: “Kami melalui masa yang panjang, seseorang diantara kami diberi iman sebelum Al-Quran, sehingga surat-surat turun kepada Nabi Muhammad, maka iapun mempelajari halal dan haram, perintah dan larangan dan bagaimana ia harus bersikap. Lalu saya melihat orang yang diturunkan Al-Quran sebelum iman, maka ia membaca surat al-Fatihah sampai khatam, tetapi ia tidak tahu apa yang dilarang dan bagaimana harus bersikap, ia membaca Al-Quran dan menganggapnya sama dengan buku-buku murahan.”
<p>Contoh-contoh para shahabat ra dalam berinteraksi dengan Al-Quran adalah<br />sebagai berikut:
<ol>
<li>
<p>Ketika turun QS 2:144. Seorang dari bani Salamah yang lewat ketika orang-orang sedang ruku’ shalat shubuh, mereka telah shalat 1 raka’at, maka ia menyeru . “Qiblat telah dialihkan!” Maka merekapun berbalik kearah Ka’bah.<br />(HR Bukhari dan Abu Daud)
<p>Ibroh: Mereka mengerjakan suatu perintah dengan sesegera mungkin dan sungguh&shy;-sungguh. </p>
<li>
<p>Ketika turun QS 4:95 maka Ibnu Ummi Maktum ra bertanya kepada Nabi SAW : “Ya Rasulullah, bagaimana dengan orang yang tidak mampu berjihad?” Maka turun ayat lanjutannya : “Kecuali bagi yang mempunyai ‘udzur”.<br />(HR Bukhari dan Tirmidzi)
<p>lbroh: Ketelitian para sahabat dan perhatian mereka yang tinggi pada setiap ayat yang turun. </p>
<li>
<p>Ketika turun QS 6:82 Para shahabat ra merasa sempit, maka mereka berkata : “Ya Rasulullah siapa diantara kita yang tidak pernah berbuat zalim? Maka Nabi SAW menjawab : “Bukan zalim itu yang dimaksud, tetapi maksudnya adalah syirik, tidakkah kalian mendengar firman Allah SWT (QS 31:13)?”<br />(HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
<p>lbroh : Rasa takut mereka yang luarbiasa terhadap suatu dosa, dan tidak menganggapnya kecil. </p>
<li>
<p>Ketika turun QS 4:123. Abubakar ra berkata: “Setiap kemaksiatan yang aku lakukan akan dibalas, maka aku tidak mendapatkan sesuatu untuk dapat melepaskanku dari azab dipunggungku.” Maka sabda Nabi SAW “Apa yang anda<br />katakan itu wahai Abubakar ?” Jawabnya : “Ya Rasulullah semua keburukanku akan dibalas.” Jawab Nabi SAW : “Semoga Allah mengampuni anda, tidakkah anda pernah sakit, kapayahan, sedih dan tertimpa musibah ?” Maka jawabnya: “‘Ya” Maka jawab Nabi SAW : “Itulah balasannya.”<br />(HR Ahmad dalam al-Musnad)
<p>Ibroh: Para shahabat ra merasa setiap ayat Al-Quran itu ditujukan kepada diri mereka bukan orang lain. </p>
<li>
<p>Ketika Abu Thalhah ra membaca ayat 9:41, ia berkata : “Allah sudah memerintahkan kepada yang tua maupun muda untuk berangkat jihad.”<br />(HR At-Thobari)
<p>lbroh: Mereka senantiasa mentadabburi setiap ayat-ayat dengan sungguh-sungguh, dan berusaha mengamalkannya sekuat tenaga. </p>
</li>
</ol>
<p><strong>Merasa Bahwa Setiap Ayat itu Ditujukan Kepada Kita</strong>
<p>lmam al-Ghazali dalam <em>al-Ihya’</em> berkata: “Merasa bahwa kitalah yang dimaksud oleh setiap <em>khithob</em> Al-Quran. Jika Al-Quran memerintah maka kitalah yang diperintah, jika Al-Quran melarang maka kitalah yang dilarang, jika Al-Quran memberi janji maka kitalah yang diberi janji, jika Al-Quran mengancam maka kitalah yang diancam, jika Al-Quran bercerita maka kitalah yang harus mengambil ibrohnya, bahkan jika <em>khithob</em> Al-Quran berbentuk jamak maka kitalah yang paling dimaksud (QS 6:19). Bagaikan seorang budak yang membaca surat dari majikannya, sehingga dengan demikian maka bacaan Al-Quran akan menambah keimanan, <em>iltizam</em> (komitmen), pengamalan dan menjadi rijal Quraniy yang memberikan atsar dan manfaat pada dirinya dan orang lain.”
<p>Ketika membaca Al-Quran tidak lantas berfikir alangkah baiknya jika ini saya sampaikan dalam kuliah/khutbah/ceramah, dsb. Seolah-olah Al-Quran ini bukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain selain dia, sementara ia sudah baik. Contohlah ketika Umar ra mendengar seseorang sedang membaca surat at-Thuur.
<p>Tidak menganggap bahwa kisah para Nabi as itu hanya cerita para Nabi as itu saja, atau ayat-ayat hukum itu untuk para pemimpin, ayat-ayat jihad untuk nanti jika ada jihad, ayat-ayat da’wah untuk para ‘ulama/muballigh dst.
<p><strong>Memahami bahwa Al-Quran Tidak Terbatas dengan Waktu dan Tempat</strong>
<p>Tidak boleh membatasi Al-Quran hanya berlaku untuk masa tertentu, orang tertentu, kaum tertentu, kecuali memang ada dalil-dalil yang jelas tentang pengkhususannya.
<p>Contoh QS 5:44 bukan khusus untuk bani Isra’il. QS 2:217 bukan khusus bagi orang Quraisy yang memerangi Nabi SAW saja, dst.
<p>Dengan demikian harus kita fahami bahwa Al-Quran sesuai dengan masa kini, terdapat relevansi yang sangat kuat. Kita akan mendapat jawaban tentang masalah yang kita hadapi dan akan kita lihat bahwa fenomena yang ada sekarang dibahas dengan pas oleh Al-Quran. Sebagai contoh adalah sbb :
<ol>
<li>
<p>Al-Hadid 4. Bahwa sampai sekarang Allah senantiasa bersama kita. (<em>Muraqabah</em> dan <em>Ma’iyyatullah</em>). </p>
<li>
<p>Al-Anbiya 59-61. Pribadi lbrahim as vs Namrud dan pengikutnya. </p>
<li>
<p>Al-Kahfi 19-20. Para pemuda dan peranannya. </p>
<li>
<p>Al-Qashash 4. Fir’aun, karakteristik dan kesesatannya. </p>
<li>
<p>Al-Muthaffifin 9. Sikap dan sifat orang durhaka. </p>
<li>
<p>Al-A’raaf 96. Sunnatullah yang berlaku sepanjang zaman. </p>
<li>
<p>An-Nisaa’ 19. Masalah hubungan keluarga. </p>
<li>
<p>As-Shaff 8-9. Perang agama.</p>
</li>
</ol>
<p>Untuk lebih memahami ini kita dituntut untuk menambah wawasan kita dengan <em>tsaqofah</em> (wawasan) yang kontemporer, sehingga kita akan lebih luas memahami ayat-ayat Al-Quran, baik sejarah, politik. ekonomi, sosial, iptek, dll.
<p><strong>Memahami Dasar-Dasar Ilmu Tafsir</strong>
<p>Seperti ilmu bahasa Arab (nahwu, sharaf dan balaghah), Ilmu Fiqh dan hukum-hukumnya, ilmu Ushul fiqh, dan Ulumul Quran (Sabab-nuzul, Makkiy-Madaniy, Nasikh-Mansukh, I’jaz al-Qur’an, qashash Al-Quran, qasam, Uslub Al-Quran, ahkam Al-Quran, dsb).
<p>Sebagian orang berpendapat bahwa itu hanya bisa dikuasai oleh orang-orang yang memiliki spesialisasi dibidang tsb, seperti lulusan IAIN, LIPIA, dsb, <strong>ini merupakan pemahaman yang salah, karena Al-Quran tidak ditujukan kepada kelompok tertentu dan tidak untuk dilaksanakan oleh kelompok tsb saja, melainkan kepada seluruh muslimin dan muslimat</strong>. Menguasai dasar-dasar ilmu<br />Al-Quran tidak sulit dan bukan mustahil, walaupun tidak juga sangat mudah seperti membalik tangan. Bukan berarti semua kita harus menjadi ahli tafsir yang mengetahui ilmunya secara terinci, tetapi agar setiap muslim memiliki bekal yang asasi untuk dapat memahami dan berinteraksi dengan Al-Quran.
<p><strong><em>Ya Allah, jadikanlah kami ahlul Quran dan jangan Engkau haramkan kepada kami untuk memahami Al-Quran, dan berikanlah kepada kami taufik dan hidayahMu agar kami senantiasa mampu untuk mengamalkan Al-Quran…</em></strong>
<p><strong>Dr. Shalah Abdul Fattah al-Kholidiy</strong>
<p>Source: <a href="http://suryaningsih.wordpress.com/2006/12/04/dasar-dasar-untuk-memahami-al-quran/">Dasar-dasar untuk Memahami Al-Quran « Suryaningsih</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tarbiyatuna.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tarbiyatuna.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tarbiyatuna.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tarbiyatuna.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tarbiyatuna.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tarbiyatuna.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tarbiyatuna.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tarbiyatuna.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tarbiyatuna.wordpress.com&amp;blog=591651&amp;post=34&amp;subd=tarbiyatuna&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tarbiyatuna.wordpress.com/2006/12/07/dasar-dasar-untuk-memahami-al-quran-suryaningsih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bfc26d2a9da468eafc617e713eac4fce?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bheri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tarbiyatuna.files.wordpress.com/2006/12/windowslivewriterdasardasaruntukmemahamialquransuryanings-e61dbatikmushaf1.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
