Ketika Salafi berebut Tafsir

Oleh : Haedar Nashir
Ketua PP Muhammadiyah, doktor sosiologi, menulis disertasi tentang salafi

Salafi merupakan genre keagamaan dalam tradisi Islam klasik yang kini banyak hadir kembali di sejumlah negara muslim dengan spirit militansi yang luar biasa. Tak kecuali di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim di era keterbukaan pada saat ini.

Kehadiran kelompok Islam yang menisbahkan diri sebagai pengikut jejak generasi panutan pasca-Nabi yang saleh (salaf al-shalih) itu, selain militan, tak jarang menampilkan corak keagamaan yang keras. Lebih-lebih ketika kelompok Islam lainnya yang serumpun juga bermunculan ke permukaan dengan tampilan keagamaan yang tak kalah keras dan militan. Ibarat pepatah, air mengalir ke tepian, kerbau pun pulang kandang. Keras pandangan, siapa pun pemiliknya, akan melahirkan peluang gampang silang sengketa yang mengalir deras ke segala arah.

Salafi (salafy) adalah sebutan bagi orang yang mengikuti atau mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf. Salaf adalah masa terdahulu, suatu era kehidupan tiga generasi sesudah Nabi, yaitu para sahabat, tabi’in (pengikut sahabat), dan tabi’in-tabi’in (pengikut para tabi’in) yang pola kehidupan keagamaannya dipandang ideal.

Salafi juga sering disamakan dengan “jamaah berpaham salaf”, mirip dengan salafiyah (salafiyyah) sebagai aliran atau mazhab. Orang yang mengikuti paham salafi disebut salafiyyun atau salafiyyin, yakni mereka yang menjadi pengikut ajaran salaf, baik karena klaim dirinya maupun predikat orang terhadapnya.

Pada awalnya, salafi atau salafiyah terbatas pada paham semata, yang muncul dari para pengikut mazhab Imam Hanbali pada abad ke-7 Hijriah. Paham ini makin populer pada abad ke-12 Hijriah di tangan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah. Secara normatif, salafi merupakan idealisasi paling harfiah untuk menjalankan praktek agama sebagaimana generasi salaf as-shalih. Praktek hidup generasi terdahulu itu, menurut sementara pandangan, termasuk yang dirujuk hadis sebagai khairu-kum qarniy, suatu generasi terbaik pasca-Nabi.

Generasi yang juga dinisbahkan sebagai ash-shabiqun al-awwalun (Q.S. At-Taubah: 100), para perintis Islam generasi awal dari Muhajirin dan Anshar yang menjalani hidup keemasan masa Nabi dan sesudahnya. Hingga di sini, kategorisasi salafi menjadi absurd, sebab kualitas ideal generasi Nabi itu menjadi hak milik setiap orang Islam untuk meraihnya, bukan milik kelompok tertentu, lebih-lebih secara given.

Dalam perkembangan berikutnya, sejarah mencatat bahwa salafiyah tumbuh dan berkembang pula menjadi aliran (mazhab) atau paham golongan, sebagaimana Khawarrij, Mu’tazilah, Maturidiyah, dan kelompok-kelompok Islam klasik lainnya. Salafiyah bahkan sering dilekatkan dengan ahl-sunnah wa al-jama’ah, di luar kelompok Syiah.

Salafi atau salafiyah bukan hanya tumbuh beragam cabang, bahkan menampilkan perbedaan paham yang sangat keras satu sama lain. Perbedaan paham yang serba ekstrem sering mengantarkan kaum salafi pada sikap gampang saling menyesatkan. Karena soal paham dan pertentangan yang keras, tidak jarang mereka melakukan mubahalah, sumpah keagamaan untuk menentukan siapa benar dan siapa salah di antara mereka.

Rentang paham keagamaan kaum salafi memang tajam dan keras. Kelompok salafi aqidah atau “dakwah” membatasi diri hanya pada praktek keagamaan yang mereka klaim bersih dari syirik, bid’ah, dan kurafat. Kelompok ini pada tingkat yang paling rigid membid’ahkan apa saja yang di luar mereka pahami, termasuk membid’ahkan organisasi dan lebih-lebih politik. Kelompok salafi “haraki”, sebagaimana namanya, melibatkan diri dalam pergerakan keagamaan, tak kecuali dalam politik.

Yusuf Qaradhawi bahkan memperkenal kelompok salafi “politik”, yang menceburkan diri dalam kegiatan-kegiatan politik praktis. Penulis, melalui disertasi tentang Gerakan Islam Syariat, mengamati kecenderungan kelompok salafi lain yang tipikal, yakni salafi “ideologis”. Mereka adalah kelompok salafiyah yang mengusung isu-isu keagamaan serba harfiah dan doktrinal, sekaligus memiliki agenda politik untuk mewujudkan cita-cita keagamaannya dalam struktur negara dan memformat ulang negara Islam.

Kelompok Islam modernis seperti Muhammadiyah dan Persatuan Islam juga dikategorikan sebagai salafiyah, yang mempraktekkan Islam murni, terutama dalam akidah dan ibadah. Azyumardi Azra memasukkan Muhammadiyah ke dalam salafiyyah washathiyyah, salafi yang moderat. Dalam istilah penulis, Muhammadiyah termasuk salafiyah tajdidiyah atau salafiyah reformis karena melakukan pemurnian sekaligus pembaruan pemikiran Islam.

Bahkan Nahdlatul Ulama dikaitkan pula dengan salafiyah, ketika merujuk pada paham keagamaannya sebagai ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Kedua gerakan Islam tersebut malah dikenal sebagai moderat. Dari titik ini tergambar betapa majemuk sekaligus absurd paham dan kelompok salafi yang muncul ke permukaan, sekaligus sebagai bayangan langsung pluralitas Islam dalam konstruksi dan latar sosio-historis para pemeluknya yang pusparagam.

Tampilan perilaku keagamaan kaum salafi pun laksana diaspora. Karena ada kategori salafi yang moderat, maka ada pula salafi “radikal”. Orang boleh tak setuju dengan kategori yang stigmatik seperti itu, tapi salafi yang disebut terakhir itu, selain serba harfiah dalam memahami Islam, juga menampilkan praktek keagamaan yang serba militan dan keras. Taliban di Afghanistan, yang pernah tampil sebagai rezim Islam, merupakan prototipe paling signifikan salafi yang super-rigid dan keras itu.

Bahkan Imam Samudra yang terlibat dalam tragedi bom Bali 12 Oktober 2002, sebagaimana dalam biografinya, Aku Melawan Teroris, mengklaim diri sebagai pengikut ajaran salaf al-shalih. Imam Samudra dengan klaim ajaran salafiyahnya bahkan menampilkan sosok penggiat Islam garis keras yang dengan terang-terangan menyatakan “aku memang demen yang ribut-ribut dan berbau kematian”, kendati dinyatakan pula bahwa dirinya bukanlah seorang anarkis dan paranoid.

Pada titik inilah kaum salafi “radikal” kemudian bersentuhan dengan format keagamaan fundamentalisme dan revivalisme Islam. Mereka seolah mendaur ulang salafiyah Wahabbiyah sekaligus bersinergi dengan neo-revivalisme Ikhwanul Muslimin, Jama’at-i-Islamy, bahkan Taliban dalam bermacam ragam tampilan. Dalam konteks ini pula wajah Islam yang serba harfiah dan doktriner itu bersenyawa dengan militansi dan gerak politik ideologis yang sama kakunya, sehingga melahirkan polarisasi dan konflik keagamaan yang seringkali keras.

Maka, ketika kaum salafi berbeda dan berebut tafsir, jangan salah bahwa mereka tidak terlalu sulit untuk saling berbenturan paham dengan keras. Baik karena salafiyah maupun tidak, manakala Islam dikonstruksi serba harfiah dan doktriner dengan klaim kebenaran dan tafsir mutlak, maka yang muncul adalah perselisihan keras dan tajam.

Absolutisasi pandangan tentang Islam memang selalu menjadi titik rawan lahirnya perseteruan. Islam salafiyah maupun penganut Islam “murni” lainnya, sepanjang selalu menganggap dirinya paling Islami sambil menganggap pihak lain tidak Islami, maka pada saat itulah ruang untuk kenisbian paham dan toleransi menjadi menyempit.

Selalu ada rujukan teologis untuk bertengkar keras memperebutkan tafsir Islam. Al-Shadek Al-Nahyoum menyebutnya sebagai fenomena Islam dhidhu’ Al-Islam, Islam dengan ikon nakirah (tak berpredikat, tak bernama) versus Al-Islam dengan idiom ma’rifah (berpredikat, bernama), yang melahirkan perbedaan paham dan pandangan yang serba diametral. Manakala perbedaan tafsir itu bersenyawa dengan urusan politik, maka wilayah perselisihan menjadi kian keras. Politik dan agama bahkan menjadi sarat ambisi untuk memenangkan wilayah kekuasaan, baik kekuasaan diniyah maupun dakwah sekaligus dunyaawiyah.

Dalam konteks gerakan salafiyah, fenomena konflik keagamaan tersebut juga menampilkan genre baru kaum salafi yang radar teologis dan ideologisnya begitu sensitif untuk saling menegasikan dan bertikai paham dengan keras. Ketika kaum salafi maupun sesama kelompok Islam lain saling berebut tafsir keagamaan dengan harga mati, maka seringkali wilayah perseteruan berbuntut rumit.

Paham agama yang serba doktrinal dan absolut, ditambah ambisi-ambisi kekuasaan duniawi dan fanatisme hizbiyah yang tinggi, kemudian bersenyawa dengan situasi krisis dan marjinal yang serba menekan, akan melahirkan konflik paham dan kepentingan agama yang keras. Sementara ruang dialog yang disediakan pun bukan wahana cair untuk berwacana, melainkan masuk ke wilayah pertempuran saling memenangkan tafsir, sambil melibatkan massa masing-masing.

Kalau boleh berharap, jangan sampai tesis Thariq Ali tentang benturan antar-fundamentalisme (the clash of fundamentalism) bersemi di tubuh umat Islam pada saat ini. Perbedaan paham tak perlu berbuntut permusuhan dan tindakan kekerasan. Wacana keislaman pun semestinya tak berujung ke pengadilan. Di titik inilah betapa cahaya kearifan dari setiap elite dan kelompok Islam untuk mengutamakan kemaslahatan bersama menjadi sangat penting laksana mutiara.

Islam itu sangatlah luas melampaui hamparan samudra, tak perlu diperkecil ke wilayah sempit. Boleh berbeda paham, tapi tak perlu bermusuhan. Jika tak mampu bersatu, setidaknya tak perlu saling mengganggu. Toleran dalam perbedaan perlu diutamakan, sambil saling memberi maaf. Itulah kearifan Islam yang autentik. Wa’tashimu bi habl Allah jami’a wa laa tafarraquu!

20 Tanggapan so far »

  1. 1

    TONO said,

    SALAFI OTAK MATI

  2. 2

    suga said,

    Menganggap diri paling benar adalah sombong, Sombong adalah haknya Alloh. Sombong membuat Iblis terusir dari Surga. Bagi yang Ingin menemani Iblis maka teruslah untuk menganggap diri paling benar.

  3. 3

    awam said,

    Yang bener dong ton,……
    suga hati-hati,… cermati dulu,…. jangan sampai kita menjadi orang yang menganggap orang lain menganggap diri paling benar tapi ternyata dia itu tidak seperti itu bahkan memang ternyata dia benar….,.gimana..?

    sebenarnya sih jelas, silahkan orang islam moderat, fundamentalis, salafy, ikhwani, mau nafsirin sendiri-sendiri, mau keluar dari konteks harfiah, maupun yang seenak udelnya, asal jujur dengan ilmunya; silahkan tafsiri ayat ayat setelah ayat kursi ….s/d… ancaman Allah … mereka kekal didalamnya.

    Wa’tashimu bi habl Allah jami’a wa laa tafarraquu!, silahkan jujur ” wa’tashimu bi habl Allah jami’an ” dahulu atau “wa laa tafarraquu!” dahulu,…..

    “tidak bertafarruk walaupun harus meninggalkan berpegang teguh pada tali Allah” atau “tetap berpegang pada tali Allah walaupun harus bertafarruk” ?

    Bapak Doktor Haedar boleh berharap “Perbedaan paham tak perlu berbuntut permusuhan dan tindakan kekerasan”, tapi itu adalah sunatuLLAH yang telah berlaku sejak perbedaan tafsir oleh iblis bahwa api lebih mulia dari tanah. yang sebenarnya intinya bukan salah tafsir itu tetapi Iblis menolak mentaati perintah ALLAH.

    Yang jelas tidak mungkin bisa kita pungkiri bahwa sejarah perjalanan umat manusia adalah peperangan, peperangan antara haq dan bathil, “..orang-orang beriman berperang dijalan ALLAH dan orang-orang kafir berperang dijalan Taghut…”.

    Silahkan kalian saling berperang dan saling mengaku dijalan ALLAH asalkan kalian jujur dengan pengakuan kalian……, tetap akan jelas siapa yang benar berperang dijalan ALLAH.

    “…. dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595],…….”

    dan silahkan jujur mana yang lebih baik dan benar ” Khalifah abu bakar ra yang memerangi sekelompok orang islam yang enggan mengeluarkan zakat…(mungkin saja mereka menganggap setelah Rasul tiada mereka tidak wajib menyerahkan zakat kepada khalifah)” dengan “kalian para doktor yang ingin tetap bermesraan dengan orang-orang atau penguasa yang nyata nyata menentang sebagian-besar hukum-hukum Allah, dengan dalih Perbedaan paham tak perlu berbuntut permusuhan dan tindakan kekerasan “; ……..

    “…Boleh jadi kamu menganggap sesuatu (peperangan)itu buruk padahal itu baik untuk mu, dan boleh jadi kamu menganggap sesuatu (saling bermesraan) itu baik padahal itu buruk untukmu……”

    “:……Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka[1473]; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (Qs. As Shaf:5)”

  4. 5

    Retno said,

    Aduh kok ayat dipilah pilah gt.apa benar kata2 “wa” dlm tafsir itu menunjukkan pilihan or urutan? Gmn nich pr ahli tafsir ?.haruskah setiap perbedaan melahirkan perpecahan?dan setiap persoalan hrs diselesaikan dgn peperangan?

  5. 6

    miswan thahadi said,

    Setuju. Islam seluas samudera kehidupan, jangan dipersempit dengan kotak-kotak pemahaman. Tapi, bisakah orang keluar dari pemahamannya sendiri? Yang diperlukan bukanlah “membenarkan semua”, tetapi “bisa memahami semua” lalu di atas pemahaman itu mengambil sikap yang ‘arif, tidak hantam kromo, apalagi sok merasa benar sendiri dan menghadapi semuanya dengan kekerasan. Toleransi bukanlah membiarkan kebatilan (termasuk kesalahfahaman thd Islam) merajalela di sekeliling kita, tetapi dakwah mesti ‘ala bashirah, bil-hikmah wal-ma’idzah hasanah… Alangkah ‘arifnya Imam Syafi’i ketika berkata, “Pendapatku benar, meski tetap saja ada kemungkinan salah. Tetapi pendapat mereka itu salah, meski tetap saja ada kemungkunan benar.” Begitulah kiranya etika Islam dalam berbeda pendapat. Tetapi, sekali lagi, mana yang termasuk wilayah ijtihad dan mana yang termasuk wilayah doktrin dalam Islam, itu juga merupakan wilayah ijtihad… Wallahu a’lamu bish-shawab..

    • 7

      Setuju ustad,terkadang (bahkan sering) melihat rekan2 ikhwah yg mencaci dan memaki kelompok lain,tapi beliaunya sndiri tdk faham hakikat kelompok yg dicaci dan dideskreditkan tsb. Dan ini terjadi pada banyak kelompok, salafy ke ikhwan, ikhwan ke salafy, terkadang sama saja. Bukankah lebih baik kita mengambil manfaat dan kelebihan masing2?

  6. 8

    arlisyugo said,

    Klo saya setuju sama Om awam…🙂

  7. 9

    taufiq said,

    Intinya… jangan saling merasa paling benar.. jangan juga saling menyalahkan.. kesatuan Islam “mungkin” tidak hrs dalam satu organisasi/wajihah/apapun namanya. Saling memahami, mengerti, toleransi dalam ijtihad. asal ada nash dan ahli ijtihadnya lho.. Kesatuan muslim jadikan hal yang utama. sekali lagi jangan saling menyalahkan. Kalo kita masih saling menyalahkan berarti kita tidak beda dengan orang yang merasa dirinya paling benar. Salafy.. benar. Ikhwan..benar.. muhammadiyah.. benar. NU benar juga. PERSIS benar juga. Dalam hal-hal tertentu, dan tentunya juga dalam hal yang lain juga ada kekurangan. Wallahu a’lam bishshowab

  8. 10

    abu abdillah said,

    uuuucchhh paayaaah,,, BISA’A CUMA MENGHUJAT SALAF DOANK KY ANAK KECIL, KLO TERJADI IKHTILAF DIANTARA KITA MARI KEMBALIKAN SMW KPD AL-QUR’AN WA SUNNAH yg SHOHIH,,,DIAJAKIN DIALOG PD TAKUT PAYAAAAAAAAAHHHH!!!!!!!!!!!

  9. 11

    abu abdillah said,

    Manhaj Salaf, Manhaj yang Benar dalam Memahami Islam “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa`:115).
    Berkata Al-Imam Ibnu Abi Jamrah Al-Andalusi: “Para ‘ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi pertama dari ummat ini,?.” (Al-Mirqat Fi Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37).

  10. 12

    Fatah Yasin said,

    Menurut saya, kita tidak perlu menghujat kelompok manapun, karena belum tentu kita sendiri benar. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa hidup secara harmonis dan saling menghargai.
    Untuk urusan ibadah HABLUM MINALLAH (hubungan dengan ALLAH), mari perhatikan perintah-Nya, kalau memang ada perintah, mari kita kerjakan, kalau tidak, mari kita tinggalkan.
    Sebaliknya, untuk urusan HABLUM MINANNAAS (hubungan dgn manusia), mari kita perhatikan larangan. Kalau dilarang, janganlah kita lakukan. Kalu tidak ada larangan, boleh kita lakukan.
    Ketika terjadi perbedaan pendapat, mari kita kembalikan pada AL-Qur`an dan Sunnah Rasul, dgn semangat musyawarah, dan saling memaafkan.
    Wallahu a`lam bis shawab.

  11. 13

    monas said,

    kita perlu berlindung dari perbuatan kita tidak hanya dari perbuatan buruk tapi juga dari perbuatan baik kita. keduanya punya potensi hati kita takabur. apalagi perbuatan yang nyata nyata menampakkan kesombongan. dalam kaidah ushul ijtihad seorang imam tidak bisa menghapus/ menyalahkan ijtihad imam yang lain. محمد اتاس

  12. 14

    zamroni said,

    sy tahu kita adalah bagian dari masalah.manakala wacana kita terasa memenuhi standar metodologi ilmiah pda dsrnya hanya hipotesa dan seterusnya akan terasa oleh jahatnya kepentingan dunia.itupun harus ada syaratnya dan rukunnya.sdh sholatkah kita atau hanya tahu sholat wajib hukumnya………..pada dasarnya kita hanya berijtihad sj kita telah jauh di belakang rasul kita atau kita telah menyelenggarakan bid’ah perpecahan bukan ???? so alqur’an dan assunnah bukan pedoman kita ?????????? exactly kepentingan kita !!!!!
    ” fawailun lilmusholliiin “????????????????????????
    ” lan tanaalul birro “????????????????????????
    ” fa laisa minni “??????

  13. 15

    BS Bekti said,

    Adanya berbagai kelompok, ormas, orpol, harokah, dll itu merupakan kekayaan umat…yang pada dasarnya umat masih memerlukan keberadaannya. Kaum Salafi yang konsen pada pembersihan Aqidah, sangat diperlukan karena realitas di masyarakat masih banyak klenik, khurafat, tahayul dll; Hizbut Tahrir yang konsen pada penegakan Khilafah, diperlukan karena realitas umat sangat memerlukan adanya kesatuan umat; Jamaah Tablig yang konsen pada Tablig untuk menghidupkan sholat berjamaah di Masjid dan menhhidupkan sunahnya dengan tidak memperbincangkan urusan politik, sangat diperlukan karena realitas masih banyak umat ini yang jauh dari masjid; Muhammadiyah yang konsen pada amal dakwah, sosial, dan pendidikan serta, diperlukan karena realitas umat sangat memerlukan pengelolaan kelembagaan sosial dan pendiodikan yang modern dan manajemen baik; NU yang konsen pada Dakwah, sosial, dan pendidikan serta kekhasan dunia pesantren dan ulama’nya, tradisi keagaamaan yang membumi dan dukungan masa yang besar, diperlukan karena realitas umat dengan kuantitas terbesar membutuhkan bimbingan dan arahannya; FPI yang konsen khususnya pada ASPEK NAHI MUNKAR, pemberantasan kemaksiyatan, diperlukan karena realitas di tengah-tengah umat dan kondisi aparat masih banyak kemaksiyatan yang perlu dihadapi dengan cara-cara yang tegas. PKS yang terjun di politik praktis dan sebagai entitas politik Islam telah dikelola dengan tujuan dan cara-cara yang baik serta dengan kekuatan Gerakan Tarbiyahnya, diperlukan karena realitas umat memerlukan wajah perpolitikan yang teduh yang memberikan Harapan dan Ketenangan, serta umat tentu tidak boleh meninggalkan gelanggang kekuasaan untuk diberikan pada “orang lain”, serta realitas generasi muda sangat memerlukan sentuhan Tarbiyahnya.
    Melihat realitas seperti itu, menurut hemat saya, yang penting bagaimana mengelola KOMUNIKASI yang baik diantara semua Komunitas umat Islam tersebut sehingga produktif bagi kepentingan umat. Karena adanya berbagai kelompok itu adalah bagian dari sunatullah dan bahkan keberadaannya ada sejak dahulu, yang menurut saya sampai kapanpun tidak mungkin semuanya itu dijadikan satu warna. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan Hasan Al Bana “Mari kita bekerjasama terhadap hal-hal yang telah kita sepakati, dan marilah saling menghormati terhadap hal-hal yang masih berbeda”. …….Ya tentu… tidak saling merasa paling benar sendiri.. tidak juga saling menyalahkan.. kesatuan Islam “mungkin” tidak hrs dalam satu organisasi/wajihah/apapun namanya. Saling memahami, mengerti, toleransi dalam ijtihad. asal ada nash dan ahli ijtihadnya .. Kesatuan muslim jadikan hal yang utama. sekali lagi jangan saling menyalahkan. Kalo kita masih saling menyalahkan berarti kita tidak beda dengan orang yang merasa dirinya paling benar.
    Salafy.. diperlukan. Ikhwan..diperlukan.., PKS diperlukan.. muhammadiyah.. diperlukan. NU diperlukan. PERSIS diperlukan. FPI diperlukan. HT diperlukan. Jamaah Tablig diperlukan. Gerakan Tarbiyah juga diperlukan.
    Dalam hal-hal tertentu mereka semua memiliki kelebihan-kelebihan, dan tentunya juga dalam hal yang lain juga ada kekurangan dan keterbatasan.
    Ya mereka juga memiliki kekurangan dan keterbatasan. Salafi yang mengharamkan partai politik, tentu dia tidak bisa jadi partai politik; HT yang mengharamkan Demokrasi tentu dia tidak bisa masuk kekuasaan melalui Demokrasi, Jamaah Tablig yang mentabukan partai politik tentu dia tidak bisa menjadi partai politik, NU dan Muhammadiyah yang memiliki beragam aktifitas dakwah, sosial, dan pendidikan juga telah “menjauhkan” dari aktifitas politik praktis tentu tidak bisa menjadi partai politik, PKS sebagai partai politik tentu dia tidak bisa melakukan sebagaimana cara-cara FPI dalam pemberantasan Maksiyat dan cara-cara Salafi dalam pembersihan Aqidah. Semuanya diperlukan dan semuanya memiliki keterbatasa. Bekerjasamalah… bekerjasamalah…. bekerjasamalah… Bersatulah dalam Aqidah meskipun bekerja melalui sarana dan kendaraan masing-masing.
    Wallahu a’lam bishshowab

  14. 17

    abu yusuf as-sunni said,

    sseorang yang senantiasa tegak diatas sunnahku pada akhir zaman nanti seperti orang yang menggenggam bara api..

  15. 18

    IMPliKaSi said,

    merdeka …

  16. 19

    abu farhat said,

    Salafi…adalah kelompok yang keras kepala, yg tdk bisa dinasehati oleh siapapun kecuali oleh yang dianggap syeikhnya atau ustadznya. bagi mereka pendapatnya adalah harga mati. Mereka tidak peduli apapun dalilnya, setinggi apapun gelar pendidikannya jika bukan golongannya mereka tidak mau mendengarkan. Mereka menolak diajak dialog (debat) yang katanya jauh dari tuntunan salafussalih tapi memcaci maki ulama’ di majelis atau dlm tulisan2 buku yang mereka buat meraka tidak mengatakan kalau caci maki itu haram. mereka sesungguhnya adalah kelompok berpenyakit diantara penyakit dalam Islam ini yang membutuhkan obat yang paten.

  17. 20

    mau ngajak akhi/ukhti fillah utk jd member PERPUSTAKAAN ONLINE MATERI TARBIYAH

    berisi 400 judul materi tarbiyah, mentoring, dauroh, dll (200 lebih dlm format power point), materi terus ditambah (di update)

    yg berminat silahkan daftar di http://www.tarbiyah-online.com

    hanya dgn Rp. 50 rb utk seumur hidup


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: